RSS

Goliath yang Semakin Redup

09 Apr

Koran Tempo, Rabu – 09 April 2008

Opini

Goliath yang Semakin Redup

Moch. Faisal

Asisten Peneliti di CIReS (Centre for International Relations Studies) Universitas Indonesia

The future of American role as the world’s government therefore depended on how much, and for how long, American would be willing to pay (Michael Mandelbaum).

Hingga sekarang Amerika Serikat bertindak layaknya sebuah pemerintah di mana negara-negara lain adalah warga negaranya. Meski tidak pernah dipilih secara demokratis, Amerika Serikat mendapat legitimasi internasional untuk menjadi pemimpin dunia dengan menjadi satu-satunya negara terkuat di dunia baik secara militer maupun ekonomi. Tak akan ada yang dapat menggoyahkan posisi AS. Namun, legitimasi AS sebagai pemimpin dunia mulai mendapat tantangan. Tantangan tersebut bukan berasal dari mana-mana, melainkan dari sesuatu yang tak terduga yang tak lain adalah faktor domestik negara tersebut.

Sebagaimana yang diungkapkan G. John Ikenberry, Amerika Serikat memiliki dua strategi besar untuk menempatkan posisinya sebagai the world’s government. Strategi besar pertama adalah orientasi realis di mana AS berusaha sebisa mungkin melakukan pencegahan perluasan kekuatan politik dan militer musuh. Pencegahan ini dapat melalui penempatan pasukan AS di luar negeri atau dengan menciptakan aliansi militer di sebuah kawasan. Strategi besar kedua adalah dengan mendorong pasar bebas melalui lembaga internasional dan mempromosikan pasar bebas. Dengan strategi pertama, AS melakukan military hegemony; sedangkan melalui strategi besar kedua, AS melakukan benign hegemony.

Dengan kedua strategi besar ini, AS berhasil menjadi pemimpin dunia. Meski banyak negara tidak suka dengan posisi hegemonik AS ini, tak satu pun negara yang berusaha mengubah perimbangan kekuasaan yang ada. Prancis, Cina, Rusia, dan dalam beberapa hal Iran, yang secara umum tidak suka dengan hegemoni AS, sampai sekarang tidak pernah memiliki kebijakan untuk mengubah perimbangan yang ada. Hal ini karena keadaan tempat AS sekarang memimpin dunia cenderung menguntungkan negara-negara lain yang ada dalam sistem internasional. Seperti yang dikatakan Mark Twain, weather that everybody talks about it but nobody does anything about it.

Namun, bagi warga AS akhir-akhir ini, kedua strategi besar ini begitu mahal dan membuang sumber daya AS untuk memakmurkan warga negaranya. Penempatan pasukan di basis AS di luar negeri membutuhkan biaya yang tak sedikit, padahal tidak ada ancaman militer yang nyata setelah runtuhnya Uni Soviet. Pasar bebas telah membuat pasar domestik AS menjadi surga bagi produk-produk negara lain. Tak mengherankan jika neraca perdagangan AS selalu berada dalam kondisi defisit. Apalagi setelah memasuki abad ke-21, musuh utama AS bukan lagi berbentuk sebuah nation-state, melainkan non-state actor yang memiliki karakteristik jauh berbeda dengan karakteristik nation-state. Alhasil, kedua strategi besar AS yang mahal ini pun tak berdampak banyak terhadap penangkalan terorisme.

Permasalahan domestik
Foreign policy begins at home. Ini merupakan aksioma yang tak dapat dimungkiri lagi kebenarannya. Survei menunjukkan mayoritas orang Amerika percaya bahwa tindakan mereka di luar negeri lebih dilandasi menjaga kepentingan AS daripada menolong negara lain. Penyebaran demokrasi akan dianggap baik bila hal itu membawa keuntungan ekonomis bagi orang Amerika.

Sebagaimana yang diutarakan Michael Mandelbaum, orang Amerika selalu menerapkan cost-benefit calculation. Orang Amerika rela uang pajak mereka digunakan untuk membiayai kebijakan AS di luar negeri selama kebijakan tersebut menguntungkan bagi mereka. Tapi orang Amerika memiliki batasan sejauh mana uang mereka dihabiskan untuk kebijakan luar negeri.

Tatkala biaya yang dibutuhkan untuk menjaga kemakmuran domestik semakin tinggi, uang yang dikumpulkan pemerintah melalui pajak tidak dapat lagi menutupi biaya kesejahteraan dan biaya untuk melestarikan posisi AS sebagai world’s government. Dengan kondisi demografis ketika kaum muda jauh lebih sedikit dari kaum tua, tanggung jawab untuk membiayai pensiun, pelayanan kesehatan, dan social security semakin meningkat. Yang membayar semuanya tak lain adalah kaum muda AS yang semakin sedikit jumlahnya. Diperkirakan sekitar US$ 45-75 triliun yang harus dibayar kaum muda Amerika untuk menyediakan jaminan sosial bagi kaum tua Amerika.

Data statistik pun menunjukkan bahwa AS mengeluarkan lebih dari US$ 400 miliar untuk anggaran keamanan dan hanya menyisakan US$ 80 miliar untuk anggaran pendidikan. Tak mengherankan, dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, pendidikan publik di AS yang paling buruk. Diperkirakan, utang AS kepada negara lain dalam bentuk bond sama dengan 60 persen dari GNP AS. Dengan kata lain, setiap US$ 100 yang dihasilkan warga AS, US$ 60 harus dialokasikan untuk membayar utang AS.

Sebuah dilema
Meski Amerika Serikat selalu ditentang negara-negara lain, tidak ada satu pun negara yang tergerak untuk menyaingi AS. Upaya menjaga stabilitas keamanan seluruh dunia bukanlah hal yang mudah, dan hanya AS yang mau menanggung itu semua. Cina sendiri, yang diproyeksikan menjadi hegemon baru dunia, tidak pernah keluar dari region Asia Timur. Paling mentok, Cina hanya menjadi hegemon di Asia saja. Begitu juga Rusia, yang kaya mendadak akibat naiknya harga minyak. Ia hanya masih berani menjadi hegemon di wilayah Asia Tengah dan Eropa Timur, tak lebih dari itu. Bila menggunakan teori hegemonic stability, sebenarnya negara-negara yang ada di dunia sekarang mengambil untung dari posisi AS yang menjadi hegemon dalam sistem internasional yang anarkistik.

Namun, melihat permasalahan domestik yang menimpanya, AS pun berada dalam kondisi dilematis. Di satu sisi, menjadi hegemon adalah posisi prestisius yang sangat menguras energi. Di sisi lain, AS juga harus memakmurkan warga negaranya. Pada akhirnya AS harus memilih antara ambisi internasional (gun) dan permasalahan domestiknya (butter).

Tentunya demokrasi lebih memilih butter daripada gun. Di dalam Declaration of Independence juga disebutkan bahwa berdirinya AS adalah untuk menciptakan kehidupan, kebebasan, dan the pursuit of happiness yang kesemuanya menuju pada permasalahan domestik (butter). Tak pernah disebutkan stabilitas internasional, kemakmuran global, sebagai tujuan AS. Jadi, konstitusi pun tidak memberikan pijakan bagi AS untuk terus bermain sebagai world’s government.

Paul Kennedy pernah berujar bahwa kemunduran sebuah negara hegemon bukanlah sejauh mana ia kehilangan legitimasi internasionalnya, melainkan sejauh mana ia kehilangan legitimasi dari rakyatnya terhadap rezim yang ada. Ancaman terbesar bagi AS pun bukanlah datang dari kemunculan pesaing dalam sistem internasional, seperti kemunculan Cina atau terorisme. Meredupnya posisi AS sebagai world’s government akan lebih disebabkan oleh keinginan warga AS sendiri yang sudah jengah dengan mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan untuk mempertahankan posisi tersebut. Setidaknya fenomena krisis finansial yang dihadapi AS, kasus subprime mortgage yang menghantam sektor perumahan AS, serta permasalahan domestik lainnya, seperti menurunnya tingkat pendidikan, defisit keuangan, defisit neraca perdagangan, dan naiknya tingkat kejahatan, dapat menjadi tanda awal kemunduran ini.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 9 April 2008 in Uncategorized

 

One response to “Goliath yang Semakin Redup

  1. rusli zainal sang visioner

    2 Juli 2009 at 10:01 am

    mampir sobat, baca-baca, banyak artikel enak dibaca disini, thanks, salam🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: