RSS

Menitipkan Rasa Percaya Diri

25 Nov

Seringkali kita tak sadar. Betapa negeri ini begitu besar. Tapi kesadaran itu menjadi tenggelam tidak selalu lantaran  alpa atau lupa. Sering masalahya karena kita sendiri gagal menumbuhkan rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar. Kita terbiasa menitipkan rasa percaya diri itu kepada apa kata orang asing tentang kita.

Begitulah kita memahami dari sudut lain pidato Obama yang memukau ribuan audiensnya, atau penontonnya dari siaran televisi beberapa hari lalu. Obama mungkin punya kharismanya tau otoritanya juga cita rasa Indonesia yang pernah ia kecap. Tapi jauh di dasar realitas kita sebagai bangsa besar, hari itu yang kita lakukan adalah mengunduh rasa percaya diri yang kita titipkan kepada orang lain.

Kita memiliki banyak ilmuwan. Juga penemu-penemu luar biasa dalam berbagai disiplin ilmu yang diakui negara-negara besar. Anak-anak muda kita telah banyak meraih medali emas dalam berbagai ajang olimpiade ilmiah. Produk usaha kecil kita tidak kalah dengan produk-produk impor. Perusahaan persenjataan kita telah mengekspor beberapa pesawat militer dan senjata ke berbagai negara. Jumlah penduduk negeri ini sangat besar. Menjadi incaran para pelaku perdagangan global. Beragamnya suku, bahasa dan kondisi geografis yang relatif bisa mengurangi transisi kekuasaan, mengagumkan banyak pemerhati demokrasi dari berbagai negara. Belum lagi kekayaannya, jutaan hektar hutan, jutaan kubik hasil tambang, jutaan ton kekayaan laut. Semua lebih cukup untuk mendasari rasa percaya diri kita sebagai bangsa yang besar.

Begitupun, percaya diri adalah soal perasaan. Maka ia memerlukan sentuhan narasi apa yang kita bicarakan tentang kita, apa yang para pemimpin bicarakan tentang negeri ini, apa yang disajukan media tentang bangsa ini. Rasa percaya diri memerlukan kata-kata. Ia memerlukan sentuhan verbal. Ia mamerlukan sentuhan luar. Maka budaya narasi kita, budaya bicara kita, budaya komunikasi kita, sesungguhnya bagian yang sangat vital dari upaya membangun rasa percaya diri itu.

Tetapi sayang media kita sudah lupa bagaimana memuji negerinya sendiri. Tokoh-tokoh kita sudah lupa bagaimana membangun kebanggaan bangsanya. Para pengamat kita banyak yang lupa sisi positif apa dari negeri ini yang bisa dikembangkan dan diberdayakan. Bukan berarti kritik harus dijauhi. Tapi membagi rasa banggsa sebagai negara besar, akan menumbuhkan rasa harap. Dan rasa harap akan menumbuhkan gairah. Dan gairah akan menumbuhkan kehendak. Dan kehendak semoga menumbuhkan prestasi demi prestasi besar.

Seringkali kita tak sadar. Betapa negeri ini begitu besar. Tapi kesadaran itu menjadi tenggelam tidak selalu disebabkan alpa atau lupa. Sering masalahnya karena kita sendiri gagal menumbuhkan rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar. Kita terbiasa menitipkan rasa percaya diri itu pada pidato atau pujian orang tentang kita.

Dikutip dari Rubik editorial Majalah Tarbawi Edisi 240

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 November 2010 in Artikel

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: